Tag Archives: Lintas Dimensi di Selatan Jawa

Cerita Hantu Lintas Dimensi di Selatan Jawa

Cerita Hantu Lintas Dimensi di Selatan Jawa – Lagi-lagi, perjalanan menuju satu tempat menghasilkan kisah mengakses tabir gelap. Benturan dua dimensi gak terelakkan, menjadi suguhan kisah seram.

Prio, pemuda asal Jogja, dapat menceritakan kisahnya disaat menyusuri jalur lintas selatan Jawa.

Cerita Hantu Lintas Dimensi di Selatan Jawa

cerita-hantu-lintas-dimensi-di-selatan-jawa

Jam delapan malam aku udah di atas motor kesayangan, menyusuri jalur lintas selatan pulau Jawa.
Aku bekerja di Purwokerto, malam jumat ini kudu pulang ke Jogja gara-gara ayah masuk tempat tinggal sakit.
Bukan kebiasaanku untuk pulang mendadak seperti ini, jadwal pulang biasanya dua minggu atau malah satu bulan sekali. Tapi ini kudu aku jalani, kendati keliru satu kakak bilang kalau aku gak kudu pulang, keluarga besar udah banyak yang menemani dan mengurus kepentingan Ayah.
Tapi aku bersikukuh, kebetulan udah nyaris satu bulan lamanya gak pernah pulang.
Ya sudah, akhirnya aku pulang.

Normalnya, perjalanan yang kudu ditempuh untuk sampai tempat tinggal bersama dengan mengendarai motor adalah empat sampai lima jam. Jadi, paling cepat semestinya jam dua belas tengah malam nanti aku udah sampai.
Hanya pakaian berbalut jaket kulit melekat di badan yang aku bawa pulang, judibolalive99 ditambah bersama dengan tas kecil berisi kepentingan sehari-hari, gak banyak memang.
Bismillah, semoga aku selamat sampai tempat tinggal tanpa kekurangan apa pun.
Udara malam tampaknya gak bergerak, tapi aku membelahnya menjadi menerpa wajah dan tubuh. Jalanan yang gak sangat lebar, tapi cukup untuk dua kendaraan berpapasan.
Gak kudu aku jelaskan lagi kan, ini malam jumat, belum akhir pekan, menjadi tentu sepi, di banyak bagian malah sangat sepi, mirip sekali gak ada orang atau tempat tinggal penduduk. Hutan kecil dan perkebunan warga menjadi pemandangan yang semestinya sanggup aku menikmati kalau siang hari.

Tapi gara-gara gelapnya pekat malam, yang terlihat cuma hitam tidak tipis tidak tebal membentuk objek isikan bumi.
Sejak tiga tahun terakhir, jalur ini udah menjadi jalur yang kudu aku lalui untuk pulang atau berangkat dari Jogja menuju Purwokerto, udah sangat hapal nyaris setiap jengkalnya, semestinya begitu.
Udara terasa dingin, disaat malam makin larut, aku yang tadinya memacu motor cukup kencang menjadi melambat, sedikit mengurangi putaran gas.
Sekali lagi menyaksikan jam di tangan kiri, gak terasa kalau jarum pendeknya udah melalui dari angka sepuluh.
Sesekali kuperhatikan langit, pemandangannya sungguh indah, sangat cerah bertabur bintang bersama dengan siraman sinar rembulan yang sesekali mengintip dari sela pepohonan.
Aku yang sendirian di atas motor, menjadi seperti raja jalanan, menyusuri jalur sepi beratap langit cerah.

Kebumen, tiba-tiba aku udah sampai di kota kecil yang sepi ini, barangkali gara-gara udah malam jadinya terasa cepat. Tanpa berhenti, aku cuma melewatinya saja, lalu terus menuju kota kecil berikutnya.
Gak sangat jauh selepas Kebumen, aku sampai di persimpangan, terhadap persimpangan ini aku berhenti sebentar untuk menentukan jalur mana sebaiknya yang kudu dilalui.
Keduanya punya medan yang berbeda, kalau ambil yang lurus dapat menemui kontur jalur banyak tanjakan dan turunan, menurutku jalurnya lebih seram gara-gara lebih banyak menemui tempat sepi yang relatif jarang penduduk.
Kalau ambil jalur ke kanan, di depannya dapat menemui jalur lurus dan panjang, tidak jauh dari garis pantai, sekurang-kurangnya aku dapat mendengar suara debur ombak dari kejauhan.
Sungguh aku agak bingung memilihnya.
Tapi akhirnya, pertimbangkan jarak tempuh, aku menentukan jalur yang lurus, kendati dapat sangat sepi tapi sanggup berhemat banyak waktu.
Jadinya aku gak dapat melalui jalur dekat pantai.
***
Benar perkiraanku tadi, jalur yang aku menentukan ini sangat sepi.
Motor kupacu bersama dengan kencang, lebih dari satu sinar lampu dari tempat tinggal masyarakat cuma terlihat menjadi garis sekelebatan.
Situasi jalur yang sangat sepi membuatku berani untuk terus memacu motor bersama dengan cepat, aku cuma menginginkan segera sampai di kota kecil berikutnya, yakni Purworejo, perkiraan semestinya gak sampai satu jam aku udah sampai di sana.
Aku sangat berkonsentrasi berkendara, sangat fokus mencermati jalur dan situasi, gara-gara itulah aku menjadi gak sanggup lagi mencermati saran waktu, gak mengerti udah jam berapa, cuma sanggup mengira-ngira.
“Sepertinya udah nyaris jam sebelas, ini sepertinya udah setengah jalur menuju Purworejo.” Begitu isikan pikiranku.
Sempat lebih dari satu kali ada keraguan, lebih dari satu kali aku mencermati jalur dan sekitarnya, aku gak mengenali, seperti baru pertama kali melintas di jalur ini.
Ah, barangkali gara-gara ini malam hari, biasanya kan aku melalui sini disaat masih ada matahari, berfikir positif aku berusaha.
Tapi kendati begitu aku terus saja memacu kendaraan, terus melaju menyusuri jalur disertai sangsi yang makin lama makin tebal.
Iya, aku makin ragu, makin banyak bagian jalur dan pemandangan yang gak aku kenal, seperti belum pernah melintas di jalur ini.
Tapi aku terus coba menegaskan diri, gara-gara sedari tadi gak menemukan persimpangan, seutuhnya jalur lurus satu jalur, aku gak pernah berbelok ke kanan atau ke kiri, bersama dengan begitu semestinya udah ada di jalur dan menuju arah yang benar.
Perlahan memperlambat laju motor, sambil mencermati jalur melacak tempat atau bagian yang barangkali aku kenali. Ternyata nggak, aku mirip sekali gak kenal tempat ini, aku sepertinya gak pernah melalui jalur ini. Kok bisa? Kenapa ini sanggup terjadi?
Semakin pelan aku memacu motor,
Aku menyerah, lalu berniat dapat melacak masyarakat setempat untuk menanyakan apakah aku tersesat atau nggak. Tapi, mirip sekali aku gak menyaksikan seorang pun juga, gak ada warung atau toko kecil yang masih buka, sepi dan kosong yang ada.
Walau lebih dari satu kali ada tempat tinggal penduduk, tapi keadaannya udah gelap, pintu dan jendelanya tertutup rapat, penghuninya tentu udah tidur, aku gak tega untuk mengetuk dan membangunkannya.
Sampai akhirnya, di kejauhan aku menyaksikan ada warung kecil yang sepertinya masih buka, ada sinar lampu dari dalamnya bersinar sedikit ke luar. Syukurlah, menjadi ada tempat untuk bertanya. Buru-buru aku tancap gas supaya cepat sampai di sana.
Benar, warung kecil ini masih buka, aku memarkirkan motor tepat di depannya.
Ada seorang ayah di dalamnya, dia tengah membereskan warung yang sepertinya memang udah berkenan tutup.
Sebentar aku melirik jam tangan, ternyata udah jam sebelas lewat.
“Permisi Pak, selamat malam. Maaf mengganggu.” Tanyaku mengakses percakapan.
“Oh iya, ada apa ya Mas?” Jawab Bapak itu bersama dengan mata berbinar.
“Mau tanya Pak, apa ini benar jalur menuju Purworejo?”
“Benar mas, lurus aja terus, gak jauh lagi sampai Purworejo. Masnya berkenan ke mana memang malam-malam begini?”
“Mau pulang ke Jogja Pak. Terpaksa malam begini.”
Setelah itu, gara-gara aku pikir udah berada di jalur yang benar, dan kata Bapak warung Purworejo udah gak jauh lagi, aku menentukan untuk ngopi sejenak di warung itu.
Sekitar 15 menit berikutnya, aku malah terlibat perbincangan bersama dengan Bapak warung, dia sempat tawarkan untuk menginap di rumahnya gara-gara malam udah sangat larut.
“Terima kasih Pak, aku lanjut jalur saja. Pingin cepat sampai di rumah.” Jawabku menampik tawaran baiknya.
“Ya sudah, tapi hati-hati ya Mas. Kalau ada yang meragukan gak usah berhenti, jalur terus saja.” Begitu kata Bapak itu.
“Mencurigakan? Mencurigakan gimana Pak?” Aku menjadi penasaran.
“Apa saja yang mencurigakan, pokoknya jalur terus. Hati-hati kalau ada iring-iringan ya.”
Ah, Bapak ini omongannya makin membawa dampak aku bingung, iring-iringan apa pula yang dia maksudkan?
Ya sudahlah, aku udah kemalaman, kudu cepat pergi lanjut perjalanan. Setelah berpamitan, aku segera tancap gas.
***
Malam makin larut, desir angin mempunyai udara dingin. Jaket kulit sepertinya kehilangan khasiat, kulit tubuh terasa terasa kedinginan.
Langit termasuk terasa berubah, yang tadinya cerah berbintang perlahan pekat hitam seperti menutup menyelimut.
Rembulan termasuk sama, sang raja malam cuma sesekali menampakkan wajah gara-gara barisan awan senantiasa menutupi disaat hendak terlihat bersama dengan sinarnya.
Tapi gak ada jalur lain, aku terus melaju bersama dengan kecepatan sedang.
Entah kenapa, aku terasa kalau jalanan makin lama makin mencekam, makin terasa seperti itu disaat mencermati kalau udah entah berapa menit yang lalu aku gak menyaksikan ada tempat tinggal masyarakat atau bangunan lain. Kanan kiri jalur cuma ada hutan kecil atau perkebunan luas.
Rasa khawatir makin bertambah, disaat menyaksikan kalau perlahan kabut tidak tebal terasa turun, pekatnya terasa menutup jalur dan sekitarnya. Jarak pandang makin pendek, makin pelan aku berkendara.
Sampai akhirnya, aku mirip sekali gak sanggup menyaksikan pemandangan kanan kiri, gara-gara gelapnya malam ditambah bersama dengan kabut yang makin pekat. Aku cuma sanggup menyaksikan lebih dari satu belas meter ke depan, dibantu lampu motor yang masih menyala terang.
Terus kususuri jalur ini, jalanan yang seperti gak berujung.
Rasa khawatir terasa ditemani oleh ketakutan, sepertinya ada yang gak beres.
***
Laju motor yang udah pelan, menjadi makin pelan disaat aku terasa kalau jalanan ini gak rata, bergelombang, gak seperti pada mulanya yang merupakan jalur aspal mulus.
Permukaan jalur berubah.
Semakin jauh aku terasa kalau jalanan makin jelek. Ya memang begitu, aku cuma sanggup merasakan gara-gara jalanan tertutup kabut, menjadi gak sanggup menyaksikan jelas.
Penasaran, akhirnya aku menghentikan motor supaya sanggup mencermati kondisi jalur bersama dengan lebih seksama.
Aku terkejut, sesudah mengerti kalau ternyata jalanan ini bukan jalur aspal seperti sebelumnya, tapi jalur tanah. Jalan tanah kering bergelombang.
“Ya, Tuhan, di mana ini?” Bertanya-tanya didalam hati.
Jelas saja aku bingung, kenapa tiba-tiba udah melintas di atas jalur tanah? Perasaan, jalur yang pada mulanya aku lewati gak melintasi persimpangan, kenapa sanggup sampai di tempat seperti ini?. Daerah hutan yang mirip sekali gak aku kenal.
Aku kebingungan, duduk di atas motor didalam diam. Ada dua pilihan, melaju terus atau berputar lagi balik menuju tempat sebelum saat ini.
Cukup lama aku termenung.
Hingga akhirnya, di pepohonan rindang sebelah kiri jalur ada yang menarik perhatian.
Sekitar lima belas meter di depan, aku menyaksikan ada suatu hal yang tengah bergerak dari balik pepohonan, berjalan menuju jalur yang tengah aku lintasi ini.
Apa itu? Aku menanyakan didalam hati, lalu mengarahkan lampu motor ke sana.
Nah, akhirnya aku menyaksikan agak jelas.
Syukurlah, agak sedikit lega, gara-gara ternyata yang aku menyaksikan adalah iring-iringan lebih dari satu orang tengah berjalan dari balik pepohonan di hutan sebelah kiri. Gak banyak, barangkali cuma empat atau lima orang, itu perkiraanku.
Aku belum sanggup menyaksikan mereka bersama dengan mengerti gara-gara pandangan masih terkendala gelap dan pepohonan.
“Ah, aku menjadi sanggup menanyakan tentang arah jalur ke orang-orang ini kan.” Begitu pikirku.
Beberapa belas detik kemudian menjadi makin bahagia lagi gara-gara menyaksikan mereka ternyata berjalan menuju ke arahku disaat udah terlihat dari pepohonan.
Benar, mereka berjalan ke arahku.
Tapi gara-gara kabut masih pekat, termasuk jarak pandang masih pendek, aku masih belum sanggup menyaksikan mereka bersama dengan jelas.
Tapi gak lama, lebih dari satu detik kemudian akhirnya aku sanggup menyaksikan mereka bersama dengan jelas, sesudah jarak kita cuma tinggal lebih dari satu meter saja.
Tapi, tiba-tiba mereka berhenti, lalu berdiri diam sekitar lima meter di depan.
Orang-orang itu berada di sisi jalur sebelah kanan, pas aku di kiri.
Aku arahkan lampu motor lurus ke depan, gak mengarahkannya segera ke rombongan itu, gara-gara gak berkenan diakui gak sopan,
itulah kenapa terhadap detik ini aku masih termasuk belum sanggup menyaksikan mereka bersama dengan jelas, yang aku mengerti mereka tengah berdiri berbaris ke belakang.
Penasaran memuncak, perasaan terasa gak enak, kenapa mereka tadi tiba-tiba berhenti lalu berdiri diam gak lanjut melangkah?, gara-gara itulah akhirnya aku nekat untuk mengarahkan lampu motor ke arah mereka.
Saat itulah ku menyaksikan semuanya.
Melihat pemandangan sangat seram di tempat yang aku mirip sekali gak kenal.
Ternyata mereka ada enam orang, dua berjajar di depan, empat di belakang.
Empat orang di belakang terlihat seperti tengah mempunyai sesuatu, membopong suatu benda di atas pundaknya.
Mereka ternyata rombongan pembawa jenazah, empat orang di belakang ternyata tengah memanggul keranda mayat!
Siapa mereka? Kenapa tengah malam begini berjalan beriringan mempunyai keranda?
Tapi, bukan itu yang membawa dampak bulu kudukku berdiri semua, ternyata bukan itu yang membawa dampak ketakutanku memuncak sampai ke ruang bathin, bukan, masih ada lagi.
Aku segera memutar motor ke arah berlawanan, berniat untuk lagi lagi saja ke arah mampir tadi, gak berkenan berpapasan bersama dengan rombongan itu, aku sangat sangat ketakutan.
Kenapa begitu? Apa yang membawa dampak aku sangat ketakutan?
Aku menyaksikan kalau ternyata mereka seluruh gak berkepala, cuma badannya saja!
Itu yang membuatku sangat ketakutan.
Setelah motor udah berbalik arah, entah disebabkan rasa was-was yang membuncah atau bagaimana, tiba-tiba mesinnya mati.
Setelah itu aku coba nyalakan lagi, berusaha terus sampai mesin hidup lagi.
Kemudian melirik sedikit ke belakang, bersama dengan maksud untuk menyaksikan rombongan seram itu. Tuhan, ternyata mereka terasa bergerak maju, mendekat ke arahku.
Melihat itu semua, aku makin panik, terus coba menyalakan mesin motor.
Nyaris menangis, disaat mengerti kalau mereka sekarang udah berada tepat di samping, berjalan pelan bersama dengan cara gontai.
Aku ketakutan, rombongan tanpa kepala pembawa keranda mayat tengah persis melintas di sebelah kananku.
Hingga akhirnya, mampir keajaiban, tiba-tiba mesin motor menyala. Detik itu pula aku segera tancap gas! meninggalkan rombongan seram itu di belakang.
Selesai? Belum.
Beberapa menit kemudian aku terasa ada yang aneh.
Ada yang terasa berlainan bersama dengan motorku, kali ini sepertinya lebih berat, aku terasa kalau beban motor menjadi bertambah.
Hmmm, seperti ada yang tengah membonceng di jok belakang! Sepertinya aku tengah gak sendirian lagi.
Melirik kaca spion, aku coba melihatnya.
Gak sangat jelas, tapi sekilas ternyata benar, aku menyaksikan dan merasakan kalau ada sosok tengah duduk di jok belakang.
Semakin ketakutan, rentetan bait doa kubaca didalam hati.
Motor terus kupacu entah ke mana, yang aku berkenan cuma pergi dari tempat seram itu.
Kira-kira dua atau tiga menit kemudian, jantungku seperti berhenti berdetak, disaat merasakan ada tepukan pelan di pundak. Kemudian perlahan aku menghentikan motor..
Sambil menangis pelan, aku terasa kalau penumpang gelap yang duduk di belakang turun dari motor.
Bodohnya, sesudah itu aku malah menoleh ke arahnya..
Benar, di sebelah kiri, aku menyaksikan ada sosok tengah berdiri, dia berdiri diam mematung, tanpa kepala!
Tanpa pikir panjang, aku segera tancap gas.
Gak lama, sekitar lebih dari satu menit kemudian aku akhirnya lagi menemui jalur beraspal, jalur aspal yang kali ini aku sanggup mengenalinya.
Kemudian aku terus melaju pulang, sampai akhirnya terhadap jam dua dini hari sampai di tempat tinggal bersama dengan selamat.
Sungguh merupakan perihal seram yang gak dapat aku lupa selama hidup.
***
Hai, balik lagi ke gw ya, Brii.
Sekian cerita kali ini
Tetap sehat, jangan nakal, biar sanggup terus deg-degan bareng.