Mess Berhantu Dan Bikin Tegang

Mess Berhantu Dan Bikin Tegang – Lingkungan kerja baru, tentu menyajikan cerita baru juga, apa lagi kalau hingga perlu tinggal di area baru. Kita gak mengerti tersedia peristiwa apa di belakangnya.

Mess Berhantu Dan Bikin Tegang

Mess Berhantu Dan Bikin Tegang

Fadli, dapat menceritakan kisah seram dikala tinggal di mess berhantu di Tasikmalaya.
***
“Ok Mas Fadli, hingga ketemu hari senin ya.”
“Ok ok. Eh tetapi aku minggu sore udah tersedia di Tasik. Saya udah tersedia di mess minggu sore, insyaAllah.”

“Oh gitu. Tapi Mas, kalau minggu sore mess tetap kosong, belum pada datang. Biasanya penghuni baru berdatangan senin pagi.”
“Ya gak apa-apa lah mas, biar santai. Kalau senin pagi aku perlu berangkat malam dari Jakarta.”
“Tapiii…,”
“Tapi kenapa Mas?”
“Gapapa, gapapa, hehe.”
Begitu percakapanku bersama dengan Ridwan lewat telepon.
Ridwan adalah rekan yang baru saja aku kenal. Dia nantinya dapat menjadi rekan di perusahaan tempatku bekerja.

Nantinya? Iya,
Aku baru saja di terima kerja di satu perusahaan manufaktur, mengolah plastik.
Setelah lewat serangkaian wawancara dan test yang dijalankan di Bandung, pada akhirnya aku diterima, bekerja sebagai operator mesin.
Iya, aku menjalani wawancara dan tes masuk di Bandung, di kantor perwakilan perusahaan. Jadi, sama sekali belum pernah mampir datang ke wilayah pabrik yang di Tasikmalaya.

Aku yang belum menikah dan tetap tinggal di tempat tinggal orang tua, gak berpikir dua kali untuk mengambil peluang ini.
Walaupun bukan multinasional tetapi perusahaan ini bukan perusahaan kecil, miliki kira-kira 500 karyawan.
Yang membuatku tertarik, mereka memberikan banyak variasi fasilitas, keliru satunya mess area tinggal untuk karyawan berdomisili di luar Tasikmalaya seperti aku ini yang tinggal di Jakarta, menjadi gak perlu pusing memikirkan cost kost atau kontrak rumah.

Ya sudah, singkat kata, aku mengambil keputusan untuk berangkat bekerja melacak nafkah dan tinggal di Tasikmalaya.
***
Tahun 2007, ini bukanlah pertama kali aku menginjakkan kaki di Tasikmalaya, semasa kuliah pernah udah beberapa mampir berkunjung. Kota di lintas selatan Jawa Barat, tetap kota kecil, tetapi amat menarik dan nyaman.
Seperti yang udah direncanakan sebelumnya, pada satu minggu sore aku udah hingga di terminal Bis Tasikmalaya, di terminal besar inilah bis yang mengantarku dari Jakarta hingga di penghentian terakhir.
Nah, ternyata alamat perusahaanku ini lokasinya agak jauh dari pusat kota, tambah udah lebih dekat ke Ciamis. Karena itulah, dari terminal perlu terutama dahulu dua kali naik angkot untuk hingga di tujuan.

Tapi gak apa-apa, perjalanan manfaatkan angkot di Tasik sungguh tetap sanggup dinikmati, suasananya menyenangkan, tipikal kota kecil yang tawarkan kesegaran hawa dan pemandangan, aku menikmatinya.
Sebelumnya, aku udah bertanya kepada Ridwan perihal detail perjalanan yang perlu aku tempuh, kata Ridwan kira-kira satu jam kurang naik angkot mestinya aku udah hingga pabrik.
Dan benar yang Ridwan bilang, sesudah kurang lebih satu jam perjalanan pada akhirnya aku hingga di tujuan.
Pagar tembok tinggi dan gerbang besi besar, itulah pemandangan yang pertama kali aku memandang dikala baru turun dari angkot.
Bangunan di didalam hanya terlihat atapnya saja, terhitung beberapa pohon tinggi menutupi sedikit pandangan.
Ridwan terhitung bilang, kalau udah hingga aku sanggup meminta tolong satpam yang tersedia di depan untuk mengantarkan ke mess karyawan.
“Sore Pak. Saya Fadli, karyawan baru, kemungkinan pak Ridwan udah kasih info-nya?” Ucapku dikala udah masuk gerbang dan menemui sekuriti yang kutemui di pos-nya.
“Oh iya iya, Pak Fadli ya. Selamat mampir Pak, pikir aku habis maghrib baru sampai, hehe. Perkenalkan, aku Saepudin, panggil aja Udin.” Pak Sekuriti yang belakangan aku mengerti kalau namanya Pak Udin, menjawab bersama dengan ramah bersama dengan logat sunda yang kental.
Setelahnya, kita berbincang saling memperkenalkan diri di pos sekuriti.
Perusahaan ini berdiri di lahan yang menurutku amat luas, tersedia tiga bangunan utama.
Bangunan besar yang paling depan adalah kantor manajemen, berlantai dua, bangunan ini yang tadi pertama kali terlihat dari luar.
Di belakangnya tersedia bangunan pabrik/warehouse, ukurannya hampir sama bersama dengan gedung manajemen, memuat segala mesin yang menghasilkan bahan produksi, yaitu plastik.
Di sebelahnya tersedia gedung lagi yang lebih kecil, menurut Pak Udin bangunan ini terhitung memuat mesin produksi, hanya skalanya saja yang lebih kecil.
Oh iya, wilayah perusahaan letaknya agak jauh dari pemukiman warga, gak di pinggir jalur utama, agak masuk ke didalam tetapi selalu tetap sanggup dilalui kendaraan besar. Lokasi yang sepertinya sebenarnya diperuntukkan untuk kawasan industri.
“Oh iya, Mas Fadli katanya bakalan tinggal di mess ya? Kalau udah siap hayuk aku antar ke mess, gak jauh kok, sanggup jalur kaki.” Pak Udin bilang begitu.
“Iya Pak. Mungkin Pak Udin tau, tersedia berapa orang yang tinggal di mess ya?” Tanyaku.
“Oh kalo pernah sih banyak Pak, tersedia belasan orang. Kalo saat ini kayaknya tinggal bertujuh, terhitung Mas Fadli ini, karena hampir semua karyawan tinggal di Tasik atau Ciamis, mereka lebih milih untuk pulang pergi dari pada tinggal di mess.” Panjang lebar Pak Udin menjelaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *