Cerita Horor Tumbal Pesugihan

Cerita Horor Tumbal Pesugihan – Terkadang, ada manusia yang seperti kehabisan akal, sampai mesti menempuh jalan pintas penuh darah dan dosa. Bekerja sama dengan suatu hal yang seharusnya gak jadi tumpuan harap.

Cerita Horor Tumbal Pesugihan

Cerita Horor Tumbal Pesugihan

Malam ini kawan kami Refty dapat berbagi pengalaman seramnya.
***
Aku Refty, umurku 27 tahun. Aku dapat bercerita tentang moment seram yang saya alami 7 th. yang lalu, saat itu umurku masih 20 tahun.
Begini ceritanya..

Waktu itu th. 2013.
Ketika itu saya tinggal di Malang, di rumah Tante May. Tante May adalah adik Bapakku yang nomer empat berasal dari tujuh bersaudara, beliau tinggal di Malang karena sesungguhnya dengan suaminya punya bisnis di kota apel itu.
Suami Tante May, Om Roy, lebih sering ke luar kota di dalam rangka mengurus bisnis yang digelutinya. Jadi, praktis cuma ada aku, Tante May, Rifka (anak laki-laki Tante May), dan tiga orang asisten yang menolong mengurus rumah dan segala keperluannya.

Iya, cuma kami berenam yang tinggal di rumah besar nan mewah ini.
Rumah mewah dan besar?
Benar, Tante May dan keluarga mendiami rumah yang menurutku sangat besar dan mewah. Rumah dua lantai, punya 8 kamar besar, perabotan mahal isikan setiap sudut ruangan.
Rumah ini termasuk berdiri di atas tanah yang sangat luas, hampir satu hektar, karena itulah halaman dan pekarangan yang dimiliki jadi sangat luas juga.
Kolam renang besar menghiasi halaman belakang, panas matahari gak mudah menembus sampai permukaan air karena beberapa pohon besar dan rindang berdiri di sekelilingnya.
Jadinya, saya yang cuma seorang putri berasal dari pemilik warung kelontongan di Jogja, jadi seperti tinggal di istana raja.

Lalu, kenapa saya sanggup tinggal di rumah itu? Kenapa sanggup tinggal di rumah Keluarga Tante May?
Begini,

Setelah lulus SMA di Jogja, saya sempat menganggur hampir sepanjang satu tahun. Kenapa gak Kuliah? Bapak belum lumayan punya uang untuk biayanya, saya sanggup tahu tentang perihal itu.
“Ya sudah, tinggal di Malang saja, biar Tante dan Om yang membiayai kuliah kamu. Hitung-hitung sambil menemani Tante di rumah, sehingga jadi agak ramai kan jikalau ada kamu.”
Begitu ucapan Tante May saat mampir mampir dan tahu jikalau saya menganggur sesudah lulus sekolah.
Aku sungguh bahagia mendengarnya, kebaikan Tante May sanggup jadi merupakan jalan keluar berasal dari keinginanku untuk kuliah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *